Sukabumi_Suasana berbeda terlihat di halaman Gedung DPRD Kabupaten Sukabumi, Kompleks Perkantoran Jajaway, Kecamatan Palabuhanratu, Senin (6/4/2026). Di tengah aksi unjuk rasa mahasiswa, Ketua DPRD Kabupaten Sukabumi, Budi Azhar Mutawali, justru memilih turun langsung menemui massa dan berdialog secara terbuka.
Aksi yang digelar oleh Aliansi Kaum Muda Sukabumi itu diawali dengan orasi di depan gerbang DPRD. Dalam orasinya, para mahasiswa menyampaikan sejumlah tuntutan penting, mulai dari transparansi pelaksanaan reses anggota dewan hingga peningkatan kualitas pelayanan publik.
Menariknya, dialog tidak berlangsung di ruang formal. Budi Azhar Mutawali bersama Ketua Komisi IV DPRD, Ferry Supriyadi, memilih duduk di atas aspal halaman gedung untuk mendengarkan langsung aspirasi mahasiswa. Momen tersebut menciptakan suasana diskusi yang lebih terbuka dan egaliter.
Dalam dialog itu, mahasiswa menyampaikan berbagai catatan kritis. Mereka menyoroti pentingnya keterbukaan informasi publik, perlunya memperluas partisipasi masyarakat, serta pengelolaan hasil reses yang dinilai harus lebih sistematis dan terintegrasi dalam perencanaan pembangunan daerah.
Selain itu, mahasiswa juga menilai keterlibatan masyarakat dalam proses perencanaan pembangunan masih perlu diperkuat agar kebijakan yang dihasilkan benar-benar tepat sasaran dan responsif terhadap kebutuhan warga.
Menanggapi hal tersebut, DPRD Kabupaten Sukabumi menyatakan menerima seluruh aspirasi yang disampaikan. Setiap masukan akan diinventarisasi dan dikoordinasikan dengan pihak terkait sesuai mekanisme yang berlaku.
Ketua DPRD Kabupaten Sukabumi, Budi Azhar Mutawali, mengapresiasi peran aktif mahasiswa dalam menyampaikan kritik secara konstruktif.
“Kami mengapresiasi masukan yang disampaikan. Semua aspirasi ini akan menjadi bahan evaluasi agar pelaksanaan reses ke depan bisa lebih terbuka, efektif, dan benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat,” ujarnya.
DPRD Kabupaten Sukabumi juga menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan transparansi, akuntabilitas, serta kualitas pelayanan publik, termasuk dalam pelaksanaan reses sebagai sarana utama penyerapan aspirasi masyarakat.
Dialog di atas aspal itu pun menjadi simbol keterbukaan, ketika ruang komunikasi antara wakil rakyat dan generasi muda terjalin tanpa sekat.












